Page 1 of 2 1 2 LastLast
Results 1 to 10 of 18

Thread: Sekedar info saja, mengenai spesies invasif.

  1. #1

    Sekedar info saja, mengenai spesies invasif.



    Sekedar info saja, siapa tau suatu saat reptil impor yang kita pelihara dapat menjadi Invasive Spesies, atau setidaknya masuk ke dalam daftar Invasive Spesies di Indonesia. Mohon maaf kalau kurang berkenan. Jikalau salah tempat silahkan dipindah


    Tentang Invasive Alien Spesies dari balai karantina Pertanian Indonesia : http://karantina.deptan.go.id/iasnew...d=55&Itemid=60
    Apa definisi IAS?

    Menurut CBD-UNEP definisi IAS adalah spesies yang diintroduksi baik secara sengaja maupun tidak disengaja dari luar habitat alaminya, bisa pada tingkat spesies, subspesies, varietas dan bangsa, meliputi organisme utuh, bagian-bagian tubuh, gamet, benih, telur maupun propagul yang mampu hidup dan bereproduksi pada habitat barunya, yang kemudian menjadi ancaman bagi biodiversitas, ekosistem, pertanian, sosial ekonomi maupun kesehatan manusia, pada tingkat ekosistem, individu maupun genetik.

    Spesies asli
    adalah spesies yang telah menjadi bagian suatu ekosistem secara alami; mengalami proses adaptasi yang telah berlangsung lama. Spesies asing/alien adalah spesies yang dibawa/terbawa masuk ke suatu ekosistem secara tidak alami. Spesies invasif adalah spesies, baik spesies asli maupun bukan, yang secara luas mempengaruhi habitatnya, dapat menyebabkan kerusakan lingkungan, kerugian ekonomi, atau menbahayakan manusia. Spesies asing tidak selalu invasif, spesies invasif belum tentu berasal dari luar/asing. IAS merupakan kombinasi dari spesies asing dan spesies invasive. Sifat invasif belum tentu muncul dihabitat baru, namun bukan berarti aman, bisa jadi karena jumlah yang dimasukkan belum cukup untuk menjadi invasif. sebagai kewaspadaan dini, karantina perlu mengawasi pemasukan jenis asing, karena kita tak pernah tahu kapan dan dalam kondisi apa spesies asing tersebut akan menjadi invasif.

    Bagaimana IAS memasuki wilayah baru?

    Meskipun perdagangan dan perjalanan internasional dipercaya sebagai faktor utama penyebab introduksi IAS secara tidak sengaja, namun data mengenai jalur masuk IAS tidak dapat diketahui secara pasti. Beberapa spesies asing yang diintroduksikan selama puluhan tahun tetapi tidak menjadi invasif, membuktikan bahwa laju pemapaman (establishment) spesies asing bervariasi. Hal ini mungkin disebabkan oleh adanya perubahan dalam spesies asing itu sendiri, perubahan jalur pengangkutan (waktu pengangkutan yang lebih pendek memberikan peluang hidup yang lebih baik bagi spesies tertentu), perubahan iklim, serta perubahan perilaku manusia pada wilayah introduksi, dan sebagainya. Percepatan pemapaman spesies asing menunjukkan bahwa introduksi yang tidak disengaja masih merupakan faktor penting dalam perkembangan IAS.
    Sebagian besar spesies tanaman dan hewan diintroduksikan secara sengaja untuk berbagai keperluan, misalnya tanaman hias, hewan sirkus atau kebun binatang, burung piaraan, dan ikan hias atau pemancingan. Di sisi lain, introduksi invertebrata (termasuk organisme laut) dan mikroba, umumnya terjadi secara tidak disengaja, menempel pada spesies lain yang sengaja diintroduksikan. Gulma seringkali terbawa sebagai pengotor pada biji-bijian yang diimpor, sedangkan tanaman hias yang kemudian menjadi gulma awalnya diintroduksikan secara sengaja untuk hiasan, stabilisasi tanah, kayu bakar, dan sebagainya, bahkan kadang terbawa secara tidak sengaja dalam program bantuan kemanusiaan ataupun perdagangan. Sebagai contoh, 13 spesies gulma yang dinyatakan berbahaya di Polinesia Perancis, awalnya merupakan spesies-spesies yang sengaja diintroduksikan sebagai tanaman hias atau untuk keperluan lainnya.
    Di samping jalur tradisional seperti pintu-pintu masuk barang dagangan di pelabuhan, beberapa jalur perlu diwaspadai sebagai jalur masuk IAS, namun belum ada kesepakatan internasional mengenai hal-hal berikut ini (CBD Subsidiary Body on Scientific and Technological Advice, 2005):
    1.
    Alat angkut Alat angkut dapat membawa IAS atau dapat menjadi tumpangannya. Alat pengangkutan seperti kapal laut, ferry, kayu gelondongan, peralatan mesin, dan sebagainya perlu diwaspadai.
    2. Aquaculture/ mariculture Introduksi hewan air eksotik dari wilayah lain dapat menjadi IAS di habitat yang baru atau menjadi pembawa IAS yang membahayakan spesies lokal.
    3. Ballast water Ballast water adalah air yang dibawa dalam lambung kapal laut untuk membantu kestabilan kapal selama berlayar. Volume ballast water dapat mencapai puluhan ribu ton bergantung pada ukuran kapal. Potensi dari ballast water dalam membawa IAS patut diperhitungkan. Apalagi sampai saat ini belum ada peraturan internasional mengenai pengendalian dan pengelolaan ballast water untuk melindungi dan meminimalkan risiko masuknya IAS.
    4.
    Alat transportasi udara Pesawat terbang sangat berpeluang untuk membawa IAS melalui barang-barang yang dibawa oleh para penumpang.
    5.
    Bantuan militer Bantuan militer dapat menjadi pembawa IAS dari suatu wilayah ke wilayah lainnya melalui peralatan, perlengkapan pasukan, dan sebagainya. Sampai saat ini, tidak ada peraturan yang mengharuskan dilakukannya inspeksi terhadap peralatan militer, personil pasukan dan perlengkapan yang dibawanya.
    6. Bantuan internasional Bantuan kemanusiaan internasional sangat berpeluang membawa IAS melalui kendaraan, peralatan khusus (pertanian, kesehatan, dan sebagainya), dan makanan. Pengawasan IAS melalui jalur ini belum diatur.
    7. Penelitian Pertukaran materi penelitian untuk kegiatan ilmiah sangat memungkinkan terbawanya IAS. Misalnya pertukaran materi genetik tanaman, spesimen biologi, koleksi kultur mikroba, alat-alat laboratorium, dan pembungkusnya.
    8.
    Pariwisata Turis mancanegara dan domestik dapat menjadi pembawa IAS secara sengaja maupun tidak sengaja melalui barang-barang souvenir maupun sebagai kontaminan pada baju, sepatu, tas dan peralatan pribadi lainnya.
    9.
    Hewan peliharaan dan tanaman hias Perdagangan spesies hewan peliharaan dan tanaman hias dapat membawa IAS.
    10.
    Agens hayati Agens hayati yang diintroduksikan dari wilayah lain dapat menjadi pembawa IAS. Oleh karena itu, sebelum digunakan secara massal, agens hayati harus melalui evaluasi kelayakan terhadap keamanannya baik pada tanaman, serangga berguna, hewan, spesies berguna lokal lainnya, dan manusia.
    11.
    Program penangkaran hewan secara ex-situ Pertukaran spesies hewan untuk penangkaran, kebun binatang, dan sarana berburu dari luar negeri perlu diwaspadai kemungkinannya menjadi IAS ataupun membawa IAS.

    Seberapa dahsyat ancaman dan kerugian akibat IAS?

    Invasi IAS merupakan ancaman utama terhadap ekosistem dan keanekaragaman hayati, dan dapat menimbulkan biaya tinggi pada kegiatan pertanian, kehutanan, perikanan, dan usaha lainnya, termasuk pada kesehatan manusia. Pengaruh IAS terhadap spesies lokal dan ekosistem sangat beragam dan biasanya bersifat tetap (irreversible). Dampak invasi IAS terkadang sangat besar. Hambatan alam seperti lautan, pegunungan, sungai dan gurun mampu ditembus akibat terjadinya percepatan kegiatan perdagangan dan perjalanan manusia. Spesies-spesies yang diintoduksikan seringkali menjadi pemangsa, mengalahkan pertumbuhan, menginfeksi atau menjadi vektor penyakit, berkompetisi, menyerang, bahkan berhibridisasi dengan spesies lokal.
    Spesies-spesies asing tersebut dapat mengubah ekosistem secara keseluruhan dengan cara mengubah sistem hidrologi, siklus hara, dan proses-proses lainnya yang terjadi di dalam ekosistem. Seringkali, spesies asing yang mengancam keanekaragaman hayati juga dapat mengakibatkan kehancuran industri yang berbasis sumberdaya alam. Spesies-spesies seperti kerang zebra (Dreissena polymorpha), tembelekan (Lantana camara), tanaman merambat kudzu (Pueraria montana var. lobata), lada Brasil (Schinus terebinthifolius), dan tikus (Rattus rattus) diketahui sebagai penyebab terjadinya malapetaka ekologi dan ekonomi. Secara taksonomi, IAS sangat beragam, meskipun spesies-spesies pada kelompok taksa tertentu (mamalia, tumbuhan, dan serangga) merupakan kelompok IAS yang merusak. Ribuan spesies telah punah atau terancam oleh kehadiran IAS baik yang berada di kepulauan maupun benua. Banyak sekali ekosistem lokal yang hilang akibat IAS.
    IAS dapat menyebabkan kerugian yang nyata secara ekonomi (misalnya biaya yang harus dikeluarkan untuk melakukan kegiatan pencegahan, pengendalian, kehilangan produksi, dan seterusnya). Gulma, salah satu kelompok IAS telah menyebabkan kehilangan hasil pertanian setidaknya 25% dan juga mengakibatkan penurunan kualitas daerah tangkapan ikan pada ekosistem laut dan perairan darat. Di negara-negara Afrika, kerugian akibat gulma eceng gondok (Eichornia crassipes) yang telah mencemari perairan dan sawah diperkirakan mencapai 60 juta dollar Amerika Serikat (AS). Biaya yang dikeluarkan oleh AS dalam menangani IAS gulma mencapai 137 milyar dollar AS per tahun. Contoh lainnya adalah keong emas (golden apple snail, Pomacea canaliculata) yang telah menyebabkan kerugian hampir 1 milyar dollar AS untuk biaya pengendalian dan kehilangan produksi padi di Filipina. Impor ternak dan hasil hutan seringkali juga membawa hama dan penyakit yang dapat mengakibatkan kehilangan hasil pertanian yang nyata pada negara importir.
    Lebih jauh, IAS dapat mengakibatkan kerusakan lingkungan termasuk terjadinya fragmentasi habitat, serta perubahan iklim global. Tidak semua spesies asing tergolong berbahaya. Pada banyak tempat, tanaman pertanian dan ternak berasal tempat lain (diintroduksikan secara sengaja). Banyak hutan produksi dan industri perikanan yang berbasis pada spesies yang diintoduksikan. Introduksi agens pengendali hayati (APH) untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman, juga seringkali cukup berhasil dan dapat mengurangi pemakaian pestisida dan menekan kerugian hasil secara nyata. Namun demikian, perlu disadari juga bahwa banyak spesies hama dan penyakit yang awalnya sengaja dintroduksikan karena dianggap menguntungkan. Banyak varietas tanaman hortikultura dan hewan eksotis yang telah menjadi invasif dan merusak.

    Bagaimana Kondisi IAS di Indonesia?


    Secara geografi, Indonesia adalah negara kepulauan. Zoogeografi di Indonesia secara garis besar dibatasi oleh garis Wallacea yang membagi Indonesia bagian Barat (Paparan Sunda atau kepulauan Sunda Besar, yaitu Kalimantan, Bali, Jawa dan Sumatera) dan Indonesia Bagian Timur (Kepulauan Sunda Kecil, Sulawesi, Maluku dan Papua). Hampir setiap pulau di Indonesia mengalami sejarah pembentukan spesies yang mengarah ke endemisitas, paling tidak sampai subspesies. Batasan spesies asing bagi Indonesia tidak membatasi spesies yang datang dari luar negeri saja tetapi mencakup spesies yang datang dari pulau-pulau lain dalam wilayah Indonesia. Untuk keperluan di atas diperlukan usaha inventarisasi flora dan fauna yang lebih menyeluruh dengan memperhatikan biogeografi yang komprehensif. Selain itu, beberapa spesies asing dari luar pulau-pulau Indonesia berdampak sangat berbeda di berbagai pulau. Sebagian besar spesies asing yang benar-benar dari luar wilayah Indonesia yang kemudian masuk ke Indonesia, bisa membahayakan, netral atau malah menguntungkan. Tentunya batasan untuk itu perlu kajian yang mendalam. Walaupun begitu, beberapa spesies antar pulau juga telah terbukti berpotensi negatif.

    Akhir-akhir ini, introduksi IAS ke luar habitatnya meningkat tajam yang disebabkan oleh meningkatnya volume transportasi, perdagangan, perjalanan dan turisme, bantuan kemanusiaan, operasi militer internasional, serta kemudahan keluar masuknya komoditi hasil pertanian sebagai akibat globalisasi. Kegiatan-kegiatan tersebut menjadi perantara dan media penyebaran bagi IAS melewati batas biogeografi. Suatu kelompok ahli IAS dunia (Invasive Species Specialist Group=ISSG) telah mengeluarkan daftar 100 IAS paling berbahaya di dunia dan daftar IAS di Indonesia. Dari kedua daftar tersebut, 27 IAS dunia termasuk ke dalam 113 IAS Indonesia yang mencakup spesies-spesies yang dikenal sebagai Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) maupun tidak, terdiri dari 59 spesies asing (alien species), 14 spesies belum ditentukan statusnya, dan 40 spesies asli Indonesia.
    Delegasi Republik Indonesia (DELRI), dalam Workshop on the Prevention and Management of Invasive Alien Species: Foraging Cooperation through South East and South Asia yang diselenggarakan pada tanggal 14-16 Agustus 2002 di Bangkok Thailand, melaporkan 39 jenis IAS Indonesia, 6 jenis di antaranya termasuk dalam daftar IAS yang dikeluarkan oleh ISSG. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa daftar IAS yang dilaporkan ada di Indonesia sangat beragam, meskipun beberapa di antaranya serupa, sehingga diperlukan penelitian yang mendalam tentang IAS di Indonesia mengenai jenis, sebaran, serta potensi kerugian ekologi dan ekonomi yang dapat ditimbulkannya.

    Apakah sudah ada dasar hukum dalam pengendalian dan pengelolaan IAS ?

    Konvensi PBB tentang keanekaragaman hayati (United Nations Convention on Biological Diversity (CBD)) mengamanatkan agar setiap negara peserta perjanjian (termasuk Indonesia) berkewajiban mencegah pemasukan, mengawasi, dan melakukan mitigasi terhadap IAS yang mengancam ekosistem, habitat, dan spesies lainnya. Indonesia sendiri telah meratifikasi perjanjian CBD ini melalui Undang-undang No. 7 tahun 1995 dan Undang-undang No. 21 tahun 2004 tentang Ratifikasi Protokol Cartagena. Selain itu juga telah diundangkan beberapa produk hukum Indonesia berkaitan dengan IAS, antara lain Undang-undang No. 16 tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan; Undang-undang No. 12 tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman; Undang-undang No. 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup;

    Hal-hal yang perlu dicermati dalam pengelolaan IAS di Indonesia antara lain bahwa daftar IAS yang dilaporkan terdapat di Indonesia menurut beberapa sumber masih sangat beragam, sehingga perlu dipikirkan konsekuensinya terhadap pengelolaan IAS di Indonesia dan kaitannya dengan kerjasama pengelolaan IAS secara bilateral, regional, dan internasional. Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian Indonesia dalam mengelola IAS adalah:

    1.
    Beberapa IAS pada awalnya sengaja diintoduksikan ke suatu wilayah karena dinilai menguntungkan, tetapi kemudian perkembangbiakannya tidak terkendali sehingga menimbulkan kerugian. Sebagai contoh adalah introduksi keong emas ke beberapa negara ASEAN yang pada awalnya digunakan sebagai sumber protein untuk ikan dan unggas, akhirnya dikategorikan sebagi IAS karena merugikan usaha pertanian. 2. IAS dapat terbawa oleh vektor serangga, seperti sacbrood virus disease yang diduga terbawa oleh lebah madu yang diintroduksikan dari Cina Selatan (Apis cerana cerana) menyerang lebah madu lokal Malaysia (Apis cerana indica)
    3. Spesies lokal dapat menjadi IAS, seperti ikan white goby (Glossogobius giurus) di danau Lanao, Filipina.

    Menilik kompleksnya penanganan IAS, pengelolaan IAS memerlukan koordinasi antar instansi yang terlibat, mulai dari tempat pemasukan sampai dengan daerah tempat IAS tersebut kemudian menetap. Mengingat masih minimnya penelitian tentang dampak ekonomi yang ditimbukan oleh IAS yang ada di Indonesia maka keterlibatan lembaga penelitian maupun perguruan tinggi sangatlah diperlukan.


    dan mengenai spesies invasif dari : http://cecep_kusmana.staff.ipb.ac.id...esies-invasif/
    SPESIES INVASIF
    Pendahuluan
    Menurut Wikipedia [2008], spesies invasif mempunyai beberapa macam definisi, yaitu (1) non-indigenous species atau spesies asing yang menyebabkan habitat diinvasi dan dapat merugikan baik secara ekonomis, lingkungan maupun ekologis; (2) native dan non-native species, spesies yang mengkoloni secara berat habitat tertentu; dan (3) widespread non-indigenous species, spesies yang mengekspansi suatu habitat. Jadi spesies invasif mencakup spesies asing (eksotik) dan spesies asli yang tumbuh di habitat alaminya.
    Karakter spesies invasif antara lain: tumbuh cepat, reproduksi cepat, kemampuan menyebar tinggi, toleransi yang lebar terhadap kondisi lingkungan, kemampuan untuk hidup dengan jenis makan yang beragam, reproduksi aseksual, dan berasosiasi dengan manusia.

    Spesies asing invasif adalah spesies-spesies flora maupun fauna, termasuk mikroorganisma yang hidup di luar habitat alaminya, tumbuh dengan pesat karena tidak mempunyai musuh alami, sehingga menjadi gulma, hama dan penyakit pada spesies-spesies asli.

    (1) Berdasarkan data The Invasive Species Specialist Group/ISSG (2004) terdapat sekitar 100 spesies yang sangat invasif, termasuk diantaranya kirinyu (Chromolaena odorata) (Lampiran 1). Invasi hayati oleh spesies-spesies saat ini telah disadari sebagai salah satu ancaman pada keberlangsungan keanekaragaman hayat dan ekosistem asli. Sebagai kompetitor, predator, patogen dan parasit, spesies-spesies asing invasif ini mampu merambah semua bagian ekosistem alami/asli dan menyebabkan punahnya spesies-spesies asli. Dalam skala besar spesies asing invasif ini mampu merusak ekosistem alami/asli.

    Selama jutaan tahun, hambatan alam berupa lautan, pegunungan, sungai dan gurun menjadi isolasi alam yang berfungsi sebagai penghalang pergerakan alami sehingga keunikan berbagai spesies dan ekosistem tetap terjaga. Penghalang alam yang telah ada dalam ratusan tahun tersebut menjadi tidak efektif disebabkan berbagai perubahan global yang membuat suatu spesies dapat berpindah melintasi jarak yang jauh dan masuk ke suatu habitat baru dan menjadi spesies asing invasif.

    Penghalang alami yang mampu menahan interaksi berbagai spesies selama jutaan tahun telah berakhir dengan meningkatnya pergerakan dan kegiatan manusia. Transportasi global, pertumbuhan volume perdagangan dan wisata serta ditambah adanya perdagangan bebas memberikan kesempatan yang lebih besar bagi suatu spesies untuk berpindah dari habitat aslinya. Penghalang pergerakan alami yang semula mampu mengisolasi pergerakan spesies-spesies asing ini dapat terjadi secara disengaja, melalui introduksi spesies komoditas, perdagangan dan kepariwisataan, atau tidak disengaja, melalui penempelan berbagai spesies makhluk hidup ini pada kapal, kontainer, mobil, benih, dan tanah.


    Introduksi Spesies Asing


    Menurut definisi International Union for Conservation of Natural Resources/IUCN seperti dikutip KLH (2002), introduksi adalah suatu pergerakan oleh kegiatan manusia, berupa spesies, subspesies atau organisme pada tingkatan takson yang lebih rendah, keluar dari tempat asalnya. Pergerakan atau perpindahan ini dapat terjadi di dalam negara atau antar negara.
    Introduksi dilakukan oleh manusia karena beberapa alasan :

    1. Aspek ekonomi (bisnis). Introduksi hewan dan tanaman hias merupakan bisnis yang besar. Kecenderungan manusia untuk menyukai sesuatu yang bersifat lain, unik ataupun aneh menyebabkan manusia mengintroduksi hewan atau tanaman yang belum pernah dilihat atau disaksikan
    2. Memenuhi kebutuhan makanan. Berbagai hewan (ternak), termasuk ikan yang diintroduksi oleh manusia dari negara lain untuk memenuhi kebutuhan makanan. Dari sekian spesies hewan dan tanaman, dipilih spesies-spesies yang memiliki pertumbuhan cepat dan mampu beradaptasi dengan cepat dalam lingkungan barunya, mudah diangkut dan dipindahkan dan mengandung unsur gizi yang besar.
    3. Memanipulasi ekosistem. Hal ini dilakukan pada kasus introduksi musuh alami suatu organisme pengganggu.

    Pemasukan, penyebaran dan penggunaan berbagai spesies asing baik yang dilakukan secara sengaja maupun tidak disengaja yang kemudian menjadi invasif telah menyebabkan kerugian ekologi dan ekonomi yang cukup besar. Kerugian berupa kerusakan lingkungan akibat invasi spesies asng umumnya sangat sulit untuk dipulihkan lagi, karena berkaitan dengan makhluk hidup yang mampu melakukan adaptasi, tumbuh dan berkembang. Kepunahan suatu spesies organisme lokal merupakan suatu spesies kerusakan yang tidak dapat diperbaharui.
    Beberapa spesies dan varitas baru yang secara teknis, ekonomis, sosial dan ekologis diperlukan dan secara nyata telah memberikan kontribusi positif bagi kesejahteraan masyarakat. Namun, banyak spesies asing yang sebenarnya dapat berdampak buruk bagi ekosistem asli.
    Hama, gulma dan penyakit yang muncul dari introduksi spesies asing invasif ini menurunkan hasil panen, menjadi pesaing pada spesies-spesies tanaman dan ternak komoditas, dan mengakibatkan kerusakan lingkungan.

    Perangkat Peraturan dan Hukum untuk Pengendalian Spesies Invasif


    Spesies asing invasif menjadi ancaman penting bagi keanekaragaman hayati. Oleh karena itu di dalam Konvensi Keanekaragaman Hayati yang telah diratifikasi Indonesia dengan UU No.5 Tahun 1994 secara khusus pada pasal 8(h) memberikan amanat agar setiap negara wajib sejauh mungkin menghindari introduksi spesies asing invasif, melakukan pengendalian dan pemusnahan spesies asing invasif tersebut yang akan menimbulkan dampak lingkungan dan kerusakan keanekaragaman hayati asli.
    Selanjutnya pada Konferensi Para Pihak ke empat Konvensi Keanekaragaman Hayati (COP IV CBD) pada tahun 1998 di Bratislava telah mengamanatkan pada para Pihak untuk mengembangkan upaya pendidikan, pelatihan dan penyadaran masyarakat secara efektif dan sekaligus mengembangkan program kampanye dan penyebaran informasi mengenai berbagai aspek yang berkaitan dengan permasalahan pengendalian spesies asing, termasuk pengkajian dan pengelolaan dampak yang mungkin timbul akibat introduksi spesies asing.

    Indonesia telah memiliki perangkat hukum yang didalamnya terkait juga dengan permasalahan introduksi spesies tumbuhan dan hewan asing. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), Pasal 3 ayat (1) mengenai spesies usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup termasuk butif 1.f., yaitu introduksi spesies tumbuh-tumbuhan, spesies hewan, dan jasad renik. Kegiatan introduksi ini wajib melaksanakan AMDAL. Namun demikian pedoman pengkajian resiko dan pengelolaan resiko yang berkait dengan introduksi spesies ini sampai sekarang belum dikembangkan.

    Berbagai Kasus Spesies Invasif di Indonesia


    Introduksi spesies asing di Indonesia telah lama terjadi, baik disengaja maupun tidak disengaja. Introduksi spesies asing tersebut dalam beberapa kasus telah menimbulkan dampak yang cukup besar. Spesies asing berupa gulma, telah menimbulkan kerugian yang cukup besar di sektor pertanian. Sementara itu ada pula spesies asing yang berubah menjadi spesies yang dominan dan berkompetisi dengan spesies lokal yang pada akhirnya mengganggu keberadaan spesies lokal. Disamping spesies asing, terdapat juga spesies asli yang invasif.
    Berikut ini beberapa kasus spesies invasif, baik tumbuhan maupun satwa, yang terjadi di sektor kehutanan, khususnya di kawasan konservasi.

    1. Taman Nasional Ujung Kulon

    Keberadaan langkap (Arenga obtusifolia) di Taman Nasional (TN) Ujung Kulon Banten, walaupun bukan spesies asing sangat mengganggu habitat satwaliar, terutama Badak Jawa. Hampir sebagian besar kawasan TN Ujung Kulon diinvasi dan didominasi oleh langkap, sehingga menekan habitat tumbuhan lain yang berfungsi sebagai pakan Badak Jawa (Arief, 1995).

    2. Taman Nasional Baluran

    Salah satu alasan ditetapkannya Baluran sebagai Taman Nasional adalah karena adanya padang savana alami yang cukup luas (10.000 ha) yang dihuni oleh berbagai spesies satwaliar langka dan dilindungi salah satu diantaranya Banteng (Bos javanicus). Oleh karena itu keberadaan ekosistem savana dan banteng menjadi salah satu objek utama dan sekaligus prioritas dalam pengelolaan kawasan TN Baluran Jawa Timur.

    Luas areal padang savana dari tahun ke tahun mengalami penyusutan/penyempitan akibat invasi akasia (Acacia nilotica) yang semula ditanam pada tahun 1969 sebagai sekat bakar (Mutaqin, 2002). Pertumbuhan atau perkembangan akasia ini sangat pesat hingga menyebar ke seluruh kawasan savana Baluran, yang diperkirakan sudah mencapai 5.000 ha. Akibatnya ekosistem savana yang semula sebagai habitat satwa telah berubah menjadi hutan akasia yang sangat rapat dan ini sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan bahkan dapat mematikan rumput sebagai pakan satwa, terutama untu banten dan rusa.

    3. Taman Nasional Wasur

    Di Taman Nasional Wasur, Papua, terdapat beberapa spesies flora dan fauna eksotik atau asing yang berpotensi mengancam kelestarian flora dan fauna asli dan keberadaan ekosistem TN Wasur. Jenis-jenis flora eksotik tersebut adalah (KLH 2002):

    (2) Eceng gondok (Eichornia crassipes)

    Spesies tumbuhan eceng gondok (Eichornia crassipes) masuk ke TN Wasur pada tahun 1990 dan menginvansi sungai-sungai besar seperti Sungai Maro dan Sungai Wanggo serta anak-anak sungainya, yang mengakibatkan terganggunya transportasi air dan pendangkalan sungai karena akarnya mengikat lumpur yang terdapat di sekitarnya. Pada tahun 2000 luasan tumbuhan eceng ini telah menyebar sampai ke daerah hilir sungai yang berbatasan dengan Papua Nugini.

    (3) Kirinyuh (Chromolaena odorata)
    Tumbuhan kirinyuh (Chromolaena odorata) menginvasi kawasan TN Wasur di daerah tepi jalan Trans Irian km 35 dan sekitar kebun-kebun masyarakat, yang bersaing dengan rumput-rumput asli. Kehadiran spesies tumbuhan ini sangat berpotensi sebagai material terjadinya kebakaran hutan pada musim kemarau.

    (4) Klampis air atau putri malu raksasa (Mimosa pigra)
    Tumbuhan klampis air (Mimosa pigra) telah tersebar di TN Wasur seluas 15,6 ha menutupi kedua sisi tepi Sungai Maro sampai Sungai Wanggo.

    (5) Ekor tikus atau jarong (Stachytarpheta urticaefolia)
    Semak ekor tikus (Stachytarpheta urticaefolia) tersebar di daerah padang rumput Ukra dan Kankania seluas 403 ha. Biji spesies tumbuhan ini mempunyai sifat tahan terhadap pembakaran, sehingga dapat berkecambah kembali pada awal musim penghujan di daerah padang rumput.

    (6) Spesies tumbuhan eksotik lainnya adalah tebu rawa (Hanguana sp.), selada air (Pistea sp.), salvinia (Salvinia sp.), sidagori (Sida acuta), saliara (Lantana camara), akasia (Acacia nilotica).
    Keenam spesies tumbuhan tersebut berpotensi mengancam kelestarian spesies flora dan fauna endemik, disamping itu pengendalian untuk spesies tumbuhan tersebut belum banyak dilakukan.

    (7) Sapi
    Sapi masuk ke padang pengembalaan TN Wasur diawali dengan terbitnya Surat Keputusan Kepala Daerah Tk. I Propinsi Irian Jaya pada tahun 1979 yang menunjuk daerah padang pengembalaan TN Wasur di daerah Tomerau dan sekitarnya sebagai lokasi pengembalaan sapi masyarakat. Jumlah sapi yang tinggal di kawasan taman nasional berjumlah 1.146 ekor pada tahun 1991 dan berkembang menjadi 1.525 ekor pada tahun 1997, dan pada tahun 1999 jumlah tersebut bertambah menjadi 2.115 ekor. Keberadaan sapi di dalam kawasan TN Wasur memberikan dampak negatif terhadap keseimbangan ekosistem kawasan TN Wasur yaitu menimbulkan persaingan sumber pakan dan sumber air dengan jenis fauna endemik kangguru/wallaby. Selain itu kehadiran sapi ternak dalam jumlah yang banyak, mengakibatkan pemadatan tanah, sehingga menghambat pertumbuhan rumput asli.

    ( 8 ) Rusa (Cervus timorensis)
    Rusa timor menginvasi daerah padang rumput bagian tenggara TN Wasur. Berdasarkan survey WWF pada tahun 1990, diketahui bahwa populasi rusa di TN Wasur diperkirakan sekitar 5985 ekor, dengan kerapatan individu 9,7 ekor/km2. Pada survey udara yang dilakukan tahun 1992-1994, populasi rusa berjumlah sekitar 12.000 ekor, dan berdasarkan survey darat yang dilakukan pada tahun 1997, diketahui populasi rusa sekitar 9.173 ekor (KLH, 2002).


    Referensi


    Arief, H. 1995. Lebensraumpraferenzen das Javanashorn im Ujung Kulon National Park, West Java, Indonesien. Thesis. Institut fur Wildbiologie und Jagkunde. Georg-August Universitat, Gottingen.
    ISSG. 2004. 100 of the world’s worst invasive alien species. ISSG: Auckland
    KLH. 2002. Keanekaragaman hayati dan pengendalian jenis asing invasif. KLH-the Nature Conservancy: Jakarta
    Mutaqin, I.Z. 2002. Upaya penanggulangan tanaman eksotik Acacia nilotica di kawasan Taman Nasional Baluran, dalam KLH (2002), Keanekaragaman hayati dan pengendalian jenis asing invasif. KLH-the Nature Conservancy: Jakarta, pp: 39-48.
    Wikipedia. 2008. Invasive species. http://en.wikipedia.org/wiki/Invasive_species.[25 Maret 2008]


    Lampiran 1.

    100 OF THE WORLD ‘S WORST INVASIVE ALLIEN SPECIES

    MICRO-ORGANISM
    avian malaria (Plasmodium relictum)
    banana bunchy top virus (Banana bunchy top virus)
    rinderpest virus (Rinderpest virus)

    MACRO-FUNGI
    chestnut blight (Cryphonectria parasitica)
    crayfish plague (Aphanomyces astaci)
    Dutch elm disease (Ophiostoma ulmi)
    frog chytrid fungus (Batrachochytrium dendrobatidis)
    phytophthora root rot (Phytophthora cinnamomi)

    AQUATIC PLANT
    caulerpa seaweed (Caulerpa taxifolia)
    common cord-grass (Spartina anglica)
    wakame seaweed (Undaria pinnatifida)
    water hyacinth (Eichhornia crassipes)

    LAND PLANT
    African tulip tree (Spathodea campanulata)
    black wattle (Acacia mearnsii)
    Brazilian pepper tree (Schinus terebinthifolius)
    cogon grass (Imperata cylindrica)
    cluster pine (Pinus pinaster)
    erect pricklypear (Opuntia stricta)
    fire tree (Myrica faya)
    giant reed (Arundo donax)
    gorse (Ulex europaeus)
    hiptage (Hiptage benghalensis)
    Japanese knotweed (Fallopia japonica)
    Kahili ginger (Hedychium gardnerianum)
    Koster’s curse (Clidemia hirta)
    kudzu (Pueraria montana var. lobata)
    lantana (Lantana camara)
    leafy spurge (Euphorbia esula)
    leucaena (Leucaena leucocephala)
    melaleuca (Melaleuca quinquenervia)
    mesquite (Prosopis glandulosa)
    miconia (Miconia calvescens)
    mile-a-minute weed (Mikania micrantha)
    mimosa (Mimosa pigra)
    privet (Ligustrum robustum)
    pumpwood (Cecropia peltata)
    purple loosestrife (Lythrum salicaria)
    quinine tree (Cinchona pubescens)
    shoebutton ardisia (Ardisia elliptica)
    Siam weed (Chromolaena odorata)
    strawberry guava (Psidium cattleianum)
    tamarisk (Tamarix ramosissima)
    wedelia (Sphagneticola trilobata)
    yellow Himalayan raspberry (Rubus ellipticus)

    AQUATIC INVERTEBRATE
    Chinese mitten crab (Eriocheir sinensis)
    comb jelly (Mnemiopsis leidyi)
    fish hook flea (Cercopagis pengoi)
    golden apple snail (Pomacea canaliculata)
    green crab (Carcinus maenas)
    marine clam (Potamocorbula amurensis)
    Mediterranean mussel (Mytilus galloprovincialis)
    Northern Pacific seastar (Asterias amurensis)
    zebra mussel (Dreissena polymorpha)

    LAND INVERTEBRATE
    Argentine ant (Linepithema humile)
    Asian longhorned beetle (Anoplophora glabripennis)
    Asian tiger mosquito (Aedes albopictus)
    big-headed ant (Pheidole megacephala)
    common malaria mosquito (Anopheles quadrimaculatus)
    common wasp (Vespula vulgaris)
    crazy ant (Anoplolepis gracilipes)
    cypress aphid (Cinara cupressi)
    flatworm (Platydemus manokwari)
    Formosan subterranean termite (Coptotermes formosanus shiraki)
    giant African snail (Achatina fulica)
    gypsy moth (Lymantria dispar)
    khapra beetle (Trogoderma granarium)
    little fire ant (Wasmannia auropunctata)
    red imported fire ant (Solenopsis invicta)
    rosy wolf snail (Euglandina rosea)
    sweet potato whitefly (Bemisia tabaci)

    AMPHIBIAN
    bullfrog (Rana catesbeiana)
    cane toad (Bufo marinus)
    Caribbean tree frog (Eleutherodactylus coqui)

    FISH
    brown trout (Salmo trutta)
    carp (Cyprinus carpio)
    large-mouth bass (Micropterus salmoides)
    Mozambique tilapia (Oreochromis mossambicus)
    Nile perch (Lates niloticus)
    rainbow trout (Oncorhynchus mykiss)
    walking catfish (Clarias batrachus)
    Western mosquito fish (Gambusia affinis)

    BIRD
    Indian myna bird (Acridotheres tristis)
    red-vented bulbul (Pycnonotus cafer)
    starling (Sturnus vulgaris)

    REPTILE
    brown tree snake (Boiga irregularis)
    red-eared slider (Trachemys scripta)

    MAMMAL
    brushtail possum (Trichosurus vulpecula)
    domestic cat (Felis catus)
    goat (Capra hircus)
    grey squirrel (Sciurus carolinensis)
    macaque monkey (Macaca fascicularis)
    mouse (Mus musculus)
    nutria (Myocastor coypus)
    pig (Sus scrofa)
    rabbit (Oryctolagus cuniculus)
    red deer (Cervus elaphus)
    red fox (Vulpes vulpes)
    ship rat (Rattus rattus)
    small Indian mongoose (Herpestes javanicus)
    stoat (Mustela erminea)
    Sumber : www.issg.org/database
    untuk daftar spesies invasive di Indonesia(dari iisg) ada di sini: http://www.issg.org/database/species...&ei=-1&lang=EN

    Konsepsi Kebijakan Pengawasan Invasive Alien Species dapat di download di sini: http://karantina.deptan.go.id/attach...Materi%202.ppt

    Terima Kasih sebelumnya.
    Last edited by Sentenza; 02-04-2012 at 11:20 PM.

  2. #2
    RANGER pasargede's Avatar
    Join Date
    Oct 2009
    Location
    เกาะช
    Posts
    1,079
    jaahhh kan tempat ente uda kena invasive species bro



    yang begonoan tuh hihihi

  3. #3
    CONTRIBUTOR
    Join Date
    Apr 2008
    Location
    Alas Roban
    Posts
    1,786
    kecoa madagaskar udah masuk invasive species belum ya?
    Kalo RES emang udah invasive, mudah beradapatasi dan berkembang biak.
    lain kali mending release RES albino aja ke alam wkwkwkwk

  4. #4
    Rx baby sun.reaper's Avatar
    Join Date
    Oct 2010
    Location
    Mgl-Yk-Sby-Jkt
    Posts
    321
    kayak keong mas ya. katanya itu asli argentina, dibawa buat obat dulunya, trus jadi masalah pertanian karena gak ada pemangsa aslinya. sory gak pake sumber, dah baca lama soalnya, lupa sumbernya dari mana.

    cmiiw

  5. #5
    CONTRIBUTOR
    Join Date
    Apr 2008
    Location
    Alas Roban
    Posts
    1,786
    malayan snail eating turtle kira2 doyan keong mas kagak ya?

  6. #6
    Rx baby sun.reaper's Avatar
    Join Date
    Oct 2010
    Location
    Mgl-Yk-Sby-Jkt
    Posts
    321
    ni om, walaupun sumbernya bukan dari yang saya baca, tapi mirip2 lah

    nb : ralat, bukan sebagai obat, tapi sebagai piaraan



    http://rumah-bayu.blogspot.com/2009_07_01_archive.html

    http://sampurnaajiyoga8.wordpress.co.../satwa-infasi/

    http://www.animalspot.net/pomacea-canaliculata.html

    mungkin doyan sih malayemys subtrituga, cuman mungkin ledakan populasi keong nya lebih besar. lagian keong mas nyerangnya sawah kan, yang merupakan daerah yang sering dijamah manusia, kalo ada kura2 yang nyasar kesitu bakal jadi apa tu kura

  7. #7
    Quote Originally Posted by pasargede View Post
    jaahhh kan tempat ente uda kena invasive species bro



    yang begonoan tuh hihihi
    hihihihi... iya... sarang burung milik bapak saya dijajah sama makhluk asing...
    untung belum nyebar kemana-mana dan mengganggu ekosistem lokal. gangguannya masih dalam skala kecil, ngganggu ekosistem sarang burung, atau malah menguntungkan populasi sarang burung, karena burungnya dapet pakan gratis

    Quote Originally Posted by longlife_saurian View Post
    kecoa madagaskar udah masuk invasive species belum ya?
    Kalo RES emang udah invasive, mudah beradapatasi dan berkembang biak.
    lain kali mending release RES albino aja ke alam wkwkwkwk
    kecoa Madagascar kayaknya belum mas. tapi mungkin berpotensi besar untuk menjadi invasive species, berkembang biaknya saja cepat sekali.
    bisa jadi iguana, dan colubrid impor berpotensi jadi invasive species.
    tapi ada juga sih spesies asing yang dianggap masyarakat awam spesies lokal kayak ikan sapu-sapu, ikan mujair, dan eceng gondok. mungkin karena sudah membumi, sehingga dikira masyarakat awam spesies lokal.

    CMIIW... sotoy deh saya

    Quote Originally Posted by sun.reaper View Post
    ni om, walaupun sumbernya bukan dari yang saya baca, tapi mirip2 lah

    nb : ralat, bukan sebagai obat, tapi sebagai piaraan



    http://rumah-bayu.blogspot.com/2009_07_01_archive.html

    http://sampurnaajiyoga8.wordpress.co.../satwa-infasi/

    http://www.animalspot.net/pomacea-canaliculata.html

    mungkin doyan sih malayemys subtrituga, cuman mungkin ledakan populasi keong nya lebih besar. lagian keong mas nyerangnya sawah kan, yang merupakan daerah yang sering dijamah manusia, kalo ada kura2 yang nyasar kesitu bakal jadi apa tu kura
    keong emas mungkin dianggap masyarakat awam spesies lokal kali yah, karena mereka sudah membumi...

    bangau lokal apa ndak mau yah makan keong emas?
    tapi bener sih, sekali nelor, keong emas bertelornya banyak sekali....

  8. #8
    RX SELLER henrysayangmama's Avatar
    Join Date
    May 2007
    Location
    Jauhdimatadekatdihati....
    Posts
    2,595
    keong mas bukan asli Indonesia yak? geblek juga tmii malah bikin Keong mas gede banget kirain karna itu asli kekayaan Indonesia Raya.....ck..ck..ck...tapi sebenernya sih banyak juga tanaman terutama buah2an yg sebeneranya bukan dari Indonesia juga...

  9. #9
    Quote Originally Posted by henrysayangmama View Post
    keong mas bukan asli Indonesia yak? geblek juga tmii malah bikin Keong mas gede banget kirain karna itu asli kekayaan Indonesia Raya.....ck..ck..ck...tapi sebenernya sih banyak juga tanaman terutama buah2an yg sebeneranya bukan dari Indonesia juga...
    buaakakakkakakakaka bener ada keong raksasa...mestinya ganti kepala condro wkwkwkwkwkwkkwkwkwkwk

  10. #10
    [QUOTE
    keong emas mungkin dianggap masyarakat awam spesies lokal kali yah, karena mereka sudah membumi...

    bangau lokal apa ndak mau yah makan keong emas?
    tapi bener sih, sekali nelor, keong emas bertelornya banyak sekali.... [/QUOTE]

    Keong mas rasanya mungkin nggak enak Bro......
    Walau gede, mungkin nggak seenak keong tutut /sawah yang kecil tapi orang suka memakannya.
    Termasuk bangau.....

Page 1 of 2 1 2 LastLast

Thread Information

Users Browsing this Thread

There are currently 1 users browsing this thread. (0 members and 1 guests)

Bookmarks

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •